Manusia diciptakan Allah pada dasarnya sempurna, maksud sempurna adalah
semua keperluan yang dibutuhkn sudah ada dan dipersiapkan. tapi
terkadang manusia tidak sadar dengan itu semua dan kurang memahami akan
makna kehidupan yang di berikan Allah pada dirinya.
Disinilah proses
dan usaha yang berperan, dalam hal ini dalam al-Qur'an Allah selalu
menyebutkan kata Annas, Basyar, dan Insan untuk manusia, padahal arti
dari semua itu sama-sama manusia, tapi makna atau esensi yang dimaksud
berbeda, saya mencoba untuk menjelaskan menurut pemahaman saya:
1.
Annas: dalam al-Qur'an kata ini selalu diperuntukan untuk menyeru
seluruh manusia tapi kalau kita lihat pasti kata itu selalu berhubungan
dengan hubungan sosial masyarakat atau sekelompok manusia yang pada
dasarnya manusia hidup berkelompok. jadi kata itu diperuntukan
pengkelompokan manusia dan hubungan sosial.
2. Basyar: dalam
al-Qur'an kata ini selalu berhubungan dengan kehidupan alamiah manusia,
maksudnya aktifitas yang primer manusia, seperti makan, minum, menangis,
mengeluh, senang, sedih, dll.
3. Insan; kata ini dalam al-Qur'an
selalu behubungan dengan hal-hal yang membuat manusia berfikir dan
konsisten atau ada proses yang dijalani oleh manusia, jadi kata ini
adalah diperuntukan manusia yang kuat dan konsisten selalu berpikir
untuk kehidupan yang tentaram dan nyaman, serta hubungan hablul mina
Allah dan Hablul Minannas seimbang. makanya kata ini diidentikan kehupan
manusia yang ideal dan puncak dari perjalan yang dilakuakn dengan
ikhtiar dan selalu optimis untuk dirinya dan Allah.
menjadi
seorang yang insan pasti melewati identitas manusia yang annas dan
basyar. menjadi seorang insan tidak mudah begitu saja, banyak
permaslahan dan dinamika kehidupan yang dialami dan dijalani tetapi
selalu menjalaninya dengan keikhlasan dan konsisten serta menjadi
manusia yang kuat, wlalaupun kehiupan di himpit dengan permaslahan2 yang
mungkin sulit dan polemik yang rumit. tapi dia selalu memunculkan
pribadi yang bijak walaupun proses yang dialami membuat dia jatuh.
karena dia yakin bahwa dinamika dan permaslahan yang dialami dijadikan
proses untuk pendewasaan berpikir dan karekter dirinya sendiri.(kata
Insan ini para cendikiawan menyebutnya dengan kata Insan kamil).